Berebut Lawang

Warisan Budaya

  • Seni

Kondisi Potensi Budaya

Masih Bertahan

Deskripsi Kondisi

Tradisi kesenian berebut lawang telah ada sejak jaman dahulu hingga sekarang di dalam prosesi adat pernikahan Melayu Belitong. Dan hingga sekarang tradisi ini terus dipertahankan dalam pelaksanaan prosesi adatpernikahan Melayu Belitong. Memang ada sedikit pergeseran yang terjadi dari tradisi ini sekarang, yaitu jumlah lawang(pintu) yang digunakan dalam kesenian ini. Pada zaman dahulu terdapat 3 lawang (pintu) yang harus dilalui oleh mempelai pria untuk menjemput mempelai wanita. Tetapi sekarang kebanyakan menggunakan 2 lawang (pintu) saja. Walaupun di beberapa tempat masih tetap menggunakan tradisi berjumlah 3 lawang (pintu).

Deskripsi Nilai Budaya

Pulau Belitong merupakan rumpun Melayu, sebagai bagian dari tanah Melayu tentunya tidak lepas dari tradisi berbalas pantun. Tradisi berbalas pantun di belitong menjadi rangkaian dari prosesi adat pernikahan melayu Belitong yang dinamakan Berebut Lawang. Berebut dalam Bahasa Belitong berarti berlomba dan lawang berarti Pintu. Jika diartikan secara bahasa memiliki arti berlomba untuk masuk ke dalam pintu dengan cara saling berbalas pantun. Prosesi berebut lawang dimulai saat rombongan pengantin laki-laki memasuki halaman rumah pengantin wanita. Setelah sebelumnya berjalan kaki sambil diringi kesenian hadrah dan ketika telah berada di depan lawang (pintu) yang disiapkan oleh tuan rumah maka iringan ini wajib untuk berhenti sesaat. Ada tiga Lawang yang harus dilewati oleh pengantin laki-laki beserta rombongan. Lawang yang pertama berada di halaman rumah sebagai penanda dipasanglah seutas tali atau selendang sebagai pembatas dan rintangan bagi mempelai laki-laki beserta rombongan laki-laki. Sedangkan untuk rombongan perempuannya dipersilakan masuk terlebih dahulu sambil membawa berbagai macam hantaran ke dalam rumah. Dan disini dimulailah tradisi berbalas pantun oleh rombongan mempelai pria dengan perwakilan mempelai wanita. Lawang pertama ini disebut dengan Lawang Tukang Tanak ( Pintu panitia hajatan yang bertugas untuk memasak nasi) yang bermakna bahwa penganti laki-laki harus siap untuk memberikan nafkah kepada istri dan anaknya nanti. Selama berbalas pantun di Lawang Tukang Tanak ini nantinya rombongan mempelai pria harus memberikan sejumlah uang sesuai dengan hasil kesepakatan selama berbalas pantun tadi. Dan uang itu nantinya akan diberikan kepada Tukang Tanak. Setelah berhasil melewati Lawang pertama, yang ditandai dengan dilepaskannya tali/selendang dan rombongan penganti pria dipersilakan masuk. Maka hadrah memulai lagi iringannya hingga menuju pada lawang kedua dan ketika berbalas pantun dimulai hadrah wajib berhenti mengiringi pangantin dengan nyanyiannya. Di Lawang kedua ini kembali pengantin pria beserta rombongan akan dihadang oleh perwakilan pengantin perempuan kembali. Lawang Panggong yang bermakna bahwa penganti laki-laki selain harus memberi nafkah juga harus bisa menjadi imam bagi istri dan anaknya dan disini juga pengantin pria juga harus memberikan sejumlah uang sesuai hasil kesepakatan dari berbalas pantun dan uang tersebut nantinya akan diberikan kepada Kepala Gawai ( ketua panitia dari hajatan perkawinan). Setelah selesai di lawang kedua, dilanjutkan dengan lawang ketiga yang dinamakan lawang Mak Inang ( Pintu bagi orang yang merias pengantin) yang bermakna bahwa pengantin laki-laki selain harus mampu memberi nafkah, menjadi imam dan pemimpin juga harus bisa merias istri dan anaknya nanti salah satunya bisa memberikan pakaian yang layak. Setelah selesai di lawang ketiga ini barulah pengantin pria untuk pertama kalinya bisa bertemu dan melihat pengantin perempuan. Sama seperti di lawang-lawang sebelumnya pengantin pria harus memberikan sejumlah uang sesuai hasil kesepakatan dari berbalas pantun dan uangnya nanti akan diberikan kepada Mak Inang. Setelah berbut lawang selesai barulah kemudian pengantin laki-laki dan perempuan duduk bersanding di pelaminan yang dilanjutkan dengan doa pengantin dengan menggunakan kesenian hadrah hingga selesai. Dan prosesi terakhirnya adalah penyerahan barang hantaran yang dibawa oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan.

Deskripsi Teknis

Berebut Lawang adalah tradisi berbalas pantun dalam prosesi perkawinan melayu Belitong. Baik dari pihak laki-laki maupun pihak perempuan akan menyiapkan sendiri jagoan pantunnya. Masing-masing perwakilan akan menunjukkan kehebatan dalam berpantun dan akan menjadi hiburan yang asik bagi para undangan. Berebut lawang ini dimulai ketika penganti laki-laki datang dan akan langsung dihadang dengan seutas tali ataupun selendang sampai pertarungan berbalas pantun selesai di tiga lawang (pintu) yang telah disiapkan.