Electrische Centrale

Warisan Budaya

  • Cagar Budaya

Kondisi Potensi Budaya

  • Rusak

Bangunan ini adalah pembangkit listrik bertenaga diesel. Pada masanya EC sempat di klaim sebagai PLTD terbesar di Asia Tenggara dan disampaikan di sekolah sekitar tahun 1950an dalam pelajaran Ilmu Bumi. Total daya yang dihasilkan oleh E.C kala itu sebesar 11,6 Megawatt dari sembilan mesin diesel.

Mesin diesel sebagai pembangkit daya, pernah diperbaharui pada tahun 1955 dengan mendatangkan mesin diesel 4 tak, 10 cylinder produksi Stork-Hesselman – Belanda. Mesin itu mampu menghasilkan tenaga berkekuatan 2400Hp dg daya yg dihasilkan sebesar 1650 KW.

Tak tanggung tanggung sebuah telaga turut difungsikan sebagai sumber pendingin untuk mesinnya. Getaran mesinnya konon dapat kita rasakan sampai radius kurang lebih 1 km. Dengan kapasitas daya sebesar itu, EC mampu memenuhi kebutuhan listrik untuk 4 kecamatan pada waktu itu. Bangunan ini sekarang telah rata dengan tanah akibat dari perbuatan oknum-oknum yang tidak bertanggung-jawab.

Tinggal puing bangunannya saja yang dapat kita saksikan. Peristiwa tersebut terjadi ketika Belitong mengalami masa sulit pasca PN Timah mengalami keruntuhan. Sebagian besar bahan bangunan terutama bagian yang terbuat dari besi dan tembaga menjadi target penjarahan oknum-oknum yang tidak bertanggung-jawab tersebut.

Sekarang ini Electrische Centrale hanyalah tinggal puing saja dan puing-puing tersebut masih bisa dilihat saat mengunjungi Kota Manggar, Ibukota Kabupaten Belitung Timur, tepatnya di Desa Lalang, berjarak sekitar 100an meter dari Kantor Desa Lalang, Manggar, Belitung Timur.

Electrische Centrale mulai dibangun pada tahun 1911 oleh NV Billiton Maatschappij (BM) dan baru beroperasi pada tahun 1914. Pada awalnya EC hanyalah pembangkit listrik yang berfungsi untuk mendukung kegiatan penambangan timah di wilayah Belitong bagian timur.

Seiring perkembangan zaman, pada tahun 1921 EC akhirnya digunakan sebagai sumber listrik untuk menerangi rumah-rumah dan bangunan lain milik perusahaan. Sebagian warga di perkampungan juga ikut menikmati listrik tersebut. Namun hanya sebatas bumiputra yang bekerja pada Belanda.

Seperti beberapa bangunan buatan Belanda lainnya, konon katanya sepasang pengantin Belanda lengkap dengan pakaian pengantinnya ikut dikuburkan di dalam sebuah ruangan khusus yg berada di bagian dasar bangunan E.C tersebut sebagai tumbal.

Entah benar atau tidaknya, mitos tersebut telah menjadi bahan pembicaraan masyarakat setempat sampai saat ini. Ada sebuah cerita berbau mistis tentang E.C ini.

Dimana pada saat Jepang mengobarkan Perang Asia Timur Raya atau lebih dikenal dengan Perang Pasifik dan salah satunya tujuannya adalah hendak menguasai Indonesia (termasuklah Belitong), Jepang sangat berambisi menghancurkan segala infrastuktur milik Belanda yang ada di Belitong, salah satunya adalah Electrische Centrale ini. Berulang kali pesawat tempur Jepang hendak mengebom Electrische Centrale ini.

Namun semuanya gagal. Menurut cerita, saat Jepang melakukan serangan udara atas bangunan Electrische Centrale tersebut, bangunan PLTD ini seolah-olah tidak terlihat sama sekali oleh pilot pesawat tersebut.

Seperti ada kabut yang menyelimuti diatas Electrische Centrale ini sehingga pilot tidak bisa melihat dan tidak bisa melakukan penghancuran dengan menjatuhkan bom. Pada tahun 1958 penambangan timah di Belitung diambil alih oleh Pemerintah Indonesia.

Peralihan itu membuat pengelolaan EC diambil alih oleh Perusahaan Pertambangan Timah Belitung (PPTB). Pada masa itu, EC berkembang menjadi pembangkit yang mampu menyuplai listrik untuk masyarakat umum. Khusus untuk karyawan timah, pemakaian listrik tidak dipungut bayaran sedangkan untuk masyarakat umum dikenakan biaya dengan tarif murah.

EC sempat disebut-sebut sebagai PLTD terbesar se-Asia Tenggara. Pada tahun 1950-an pernyataan itu disampaikan dalam pelajaran Ilmu Bumi yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Geografi.

Pada masa itu EC mampu mendukung kebutuhan listrik perumahan ke seluruh wilayah Belitong bagian timur.

EC juga berfungsi sebagai power suplay untuk Kapal Keruk (KK) darat dan tambang semprot (TS) atau sekarang tambang inkonvensional (TI) yang beroperasi di wilayah Belitung Timur seperti Manggar, Selumar, Gantung, Damar, dan Kampit. Takdir kehancuran PLTD Electrische Centrale rupanya memang sudah tidak bisa dielakkan.

Kalau saat itu Jepang tidak mampu menghancurkan Electrische Centrale serangan bom, berpuluh tahun kemudian akhirnya Electrische Centrale ini luluh lantak juga. Eksistensi EC sebagai pembangkit listrik sangat bergantung pada kondisi PT Timah. Ketika perusahaan menghadapi masa sulit pada periode 1990-1991, perlahan EC mulai dinonaktifkan karena dianggap memiliki biaya operasional yang tinggi.

Setelah lama didiamkan dan dianggap tidak produktif, PT Timah akhirnya melelang EC sekitar tahun 1994-1995. Setelah terjual, bangun EC beserta mesin-mesin di dalamnya pun mulai dipreteli sedikit demi sedikit. Ditambah lagi oknum-oknum masyarakat yang tidak bertanggungjawab semakin meluluhlantakkan EC.

Bangunan tua yang seharusnya dapat dijadikan monumen untuk mengenang masa keemasan penambangan timah di Pulau Belitong. Bangunan ini sekarang telah rata dengan tanah akibat dari perbuatan tangan tangan yang tidak bertanggung-jawab.

Tinggal puing bangunannya saja yang dapat kita saksikan Sekarang ini Electrische Centrale hanyalah tinggal puing dan puing-puing tersebut masih bisa anda lihat saat mengunjungi Kota Manggar, Ibukota Kabupaten Belitung Timur, tepatnya di Desa Lalang, berjarak sekitar 100an meter dari Kantor Desa Lalang, Manggar, Belitung Timur.

Bentuk bangunan memiliki bentuk khas peninggalan zaman kolonial dengan bentuk ruangan yang besar. Terdapat bermacam pipa besi yang melintang di sekitaran kawasan ini dan juga terdapat stasiun Trem tidak jauh dari lokasi ini. Dan sebagai pendingin alami dari Electrische Centrale memanfaatkan sebuah kulong (telaga yang terbentuk dari bekas tambang) tidak jauh dari bangunan ini berdiri. Dengan kondisi sekarang yang tinggal menyisakan pondasi saja masih bisa melambangkan kekokohan bangunan ini.

Bagaimana tidak, pondasinya tidak mudah hancur sekalipun dihantam dengan palu gada berukuran besar. Bahkan sampai sekarang pun aroma minyak solar masih tercium menyengat.

#

Kembali ke Budaya