Sejarah Kejayaan Timah Belitong (Distrik Manggar)

Warisan Budaya

  • Sejarah

Bangka dan Belitung adalah dua pulau yang memiliki banyak kemiripan. kedua pulau yang terapung sendiri-sendiri ini dipisahkan oleh sebuah selat, dan terletak di sisi timur Sumatera bagian selatan. Komposisi etnis penduduk Bangka dan Belitong pun hampir mirip, bahasanya berkerabat, dan keduanya ialah pusat pertambangan timah nasional (baik di era penjajahan Belanda maupun ketika Indonesia telah merdeka) sejak abad ke-19. Namun, dari sisi sejarah kedua pulau ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan loh, bukan hanya sejarah timah bahkan mulai dari sejarah di zaman kerajaan juga perbedaan ini sudah sangat kentara. Sebelum kita mengulas tentang Sejarah Timah di Belitong pada umumnya dan peninggalan kejayaan timah di Desa Lalang ini pada khususnya, kita terlebih dahulu mengulas sedikit tentang Pulau Belitong sebelum memasuki era pertambangan.

Kita akan mulai dari istilah Homo Politicus dan Homo Economicus. Tetapi homo disini merujuknya ke pengertian yang positif ya. Maklum saja di era 4.0 sekarang, generasinya mungkin lebih familiar dalam konsonan yang negatif ketimbang makna lain dari Homo ini. Homo yang dimaksud adalah pengertian secara bahasa yang berarti manusia modern. Dalam sebuah buku Sejarah Bangka dan Belitung, istilah Homo Politicus dan Homo Economicus pertama kali mencuat untuk menggambarkan pola pikir masyarakat Bangka dan Belitung pada umumnya, yaitu Homo Politicus lebih di identikkan kepada Orang Belitong dan Homo Economicus digambarkan sebagai Orang Bangka. Tahu gak perbedaan dan maksudnya? Orang Belitong digambarkan secara umum sebagai masyarakat yang lebih suka berpolitik sedangkan Orang Bangka digambarkan sebagai masyarakat yang cenderung berpikiran perihal permasalahan ekonomi. Bukan tanpa dasar, istilah ini muncul berdasarkan fakta sejarah dan fakta yang terjadi serta bisa terlihat sekarang loh. Walaupun ini tidak menggambarkan seutuhnya kemunculan kedua istilah ini. Tetapi ini merupakan gambaran-gambaran nyata ya,gak percaya? Berikut kami berikan gambarannya,  politikus-politikus nasional cenderung atau kebanyakan berasal dari Belitong dibandingkan Bangka , seperti Bapak Prof.Dr.Yusril Ihza Mahendra yang beberapa kali pernah menjabat sebagai menteri bahkan pernah dicalonkan sebagai presiden di era pemilihan presiden masih ditentukan oleh DPR, hanya saja ketika itu beliau memilih mundur untuk menghormati KH Abdurrahman Wahid (Gusdur) yang juga dicalonkan ketika itu dan beliau ini adalah asli Putra Belitong yang lahir dan tinggal di Desa Lalang ini loh, rumah orang tua beliaupun sampai sekarang masih kokoh berdiri di Desa Lalang ini, kemudian adik beliau Yusron Ihza Mahendra yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Jepang, Bapak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) hingga seorang Dipa Nusanta (DN) Aidit yang malang melintang di kancah perpolitikan nasional, khusus dua orang belakangan yang disebut memang sedikit kontroversial tetapi disamping itu pemikiran-pemikiran beliau untuk kemajuan negeri pantas untuk kita hormati. Dan lucunya, Bahkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Belitong, pembicaraan politik kerap kali terdengar di sela-sela obrolan di Warung Kopi di Belitong. Jadi, terkadang di Belitong kita tidak harus menonton berita di TV ataupun membaca koran di pagi hari, cukup dengan ngopi di warung kopi terkadang kita bisa mendapatkan update terbaru tentang segala macam berita loh. Sedangkan orang Bangka di perkancahan nasional lebih banyak dikenal sebagai pengusaha yang sukses.karena inilah bangka masyarakatnya lebih dianggap sebagai Homo Economicus. Yah, walaupun ini bukan gambaran seutuhnya. Tapi dari sejarah bisa kita tarik kesimpulan demikian.

Kalau kita tarik benang merahnya kebelakang yaitu di masa-masa kerajaan Nusantara di Indonesia. Terdapat pola yang berbeda dalam pembentukan kerajaan di Pulau Bangka dan Pulau Belitong. Di Pulau Bangka, kerajaan—kerajaan yang berdiri merupakan anak kerajaaan dari kesultanan Palembang. Sedangkan di Pulau Belitong, kerajaan yang berdiri telah memiliki afiliasi ke kerajaan-kerajaan yang berada di Nusantara dan berdiri sendiri. Menurut catatan sejarah terdapat 4 kerajaan yang pernah berkuasa di Pulau Belitong ini yang luasnya tidak melebihi setengah dari Pulau Bangka ini yaitu Kerajaan Balok, Kerajaan Badau, Kerajaan Belantu dan Kerajaan Buding. Yang mana masing-masing dari kerajaan ini berafiliasi dan menjalin kerja sama dengan kerajaan-kerajaan besar Nusantara dan tentunya masing – masing berbeda. Bayangkan saja, sebuah pulau kecil memiliki 4 kerajaan yang terbentuk mandiri dan sudah menjalin kerja sama secara mandiri pula ke kerajaan-kerajaan besar yang ada pada zaman itu. Dan dari sinilah, gambaran pola pikir Orang Belitong pada umumnya terbentuk hingga sekarang. Sehingga para ahli menyimpulkan bahwa orang Belitong cenderung sebagai Homo Politicus. Tidak sampai disini kalau kita telisik lebih lanjut pada era timah, pemikiran-pemikiran politis Orang Belitong masih berlanjut dalam pencarian timah di Belitong oleh Belanda. Yang membuat Belanda hampir menyerah untuk mengeksplorasi Timah di Pulau Belitong pada awalnya. Penasaran kisah lengkapnya??

 Sejarah penambangan timah yang menjadi sumber pencaharian Pulau Bangka dan Pulau Belitong memiliki sejarah yang berbeda dan cukup signifikan loh. .Pertambangan timah di Bangka dan Belitong meluncur di jalur yang berlainan, dan karena itu keduanya, meski tergabung dalam unit administratif yang sama (keresidenan di periode Hindia Belanda dan provinsi di masa Republik Indonesia), memiliki sejarah yang berbeda pula.

Pada 1668 dan 1672, seorang ondercoopman atau agen VOC yang bernama Jan De Harde mengunjungi dua pulau tersebut, tapi ia gagal menemukan sumber keuntungan komersial yang signifikan, ya mungkin pada waktu itu Pulau Belitong masih sangat hijau ya ditambah lagi kesan angker dan dianggap tidak aman karena pada masa itu beredar informasi di kalangan pedagang bahwa perairan Belitong banyak dihuni oleh Lanun ( Bajak Laut ). Beberapa puluh tahun kemudian barulah tambang-tambang timah dibuka di Bangka. Dalam laporan ahli botani J.C.M Radermacher tentang kunjungannya ke Sumatera (1781), terdapat deskripsi: “sebuah bukit timah, seperti Bangka.” Menurut Mary F. Somers Heidhues dalam “Company Island: A Note on the History of Belitung”, sehingga pemerintah Hindia Belanda ogah-ogahan mencari timah di Belitung karena mereka tidak yakin pasar sanggup menampung timah lebih dari hasil pertambangan di Bangka pada awalnya. Yang dikemudian hari asumsi ini dipatahkan oleh seorang John Francis Loudon yang merupakan salah satu pioneer sejarah penambangan timah di Belitong dan juga sekaligus loudon adalah sahabat karib dari prince hendrik seorang pangeran dari Kerajaan Belanda. Nanti kita akan bicarakan secara khusus bagaimana eksplorasi timah di Belitong dimulai setelah melalui beberapa ekspedisi yang panjang dan dilakukan penelitian berulang kali, sabar ya, nanti kita bahas ini di segmen lain, yang akan diulas khusus…

Pertambangan timah di Bangka dan di Belitong itu dikelola secara berbeda. Di Bangka, setiap awal tahun, para kuli timah menerima uang muka gaji. Hal itu memungkinkan mereka menghabiskannya untuk judi, prostitusi, dan opium sebelum kerja mereka rampung. Akibatnya, mereka bekerja bertahun-tahun hanya untuk membayar utang. Lingkaran yang menjerat ini menjadikan mereka tak ubahnya budak. Sedangkan di Belitong para kuli dibayar hanya setelah mereka bekerja, sesuai hasil yang mereka peroleh. Setiap awal tahun mereka berhak memilih “numpang” atau unit kerja yang mereka anggap baik. Setelah bekerja selama tiga tahun, jika tak mempunyai utang, mereka berhak mengajukan diri untuk dipulangkan ke Cina dengan biaya Maskapai atau perusahaan.

 Belitong juga mendirikan rumah sakit untuk para pekerja jauh lebih dulu ketimbang Bangka. Pada 1903, seorang pegawai kolonial yang bernama Hoetink memuji keadaan di Belitong: “Bagi orang-orang yang bersimpati terhadap kaum Cina, kunjungan ke perusahaan timah Belitong benar-benar menyegarkan. Di tempat lain, kuli-kuli Cina kerap digambarkan sebagai binatang, sampah, dan orang-orang buangan. Tapi di sini, bukan hanya ketekunan dan kekuatan mereka dihargai, sifat-sifat baik mereka yang lain juga tidak diabaikan. Jarak antara majikan dan pelayan tidak sebesar di tempat lain. Kuli-kuli tidak dipandang rendah, tapi disambut dengan kebaikan.

Dan menariknya Belitong adalah wilayah pertama di Indonesia yang kembali ke tangan Belanda, tanpa peralihan kekuasaan yang diatur Sekutu,” Heidhues menyebut Belitong sebagai “Company island” alias “pulau Maskapai”. Dan Belitong dulu ketika di masa peralihan kemerdekaan, Belitong pernah menjadi Negara Bagian loh. Sebuah pulau kecil yang dianggap bisa mandiri oleh negara pada masa itu dan hal itu tidak terlepas dari profesionalitas Belanda untuk mengembangkan Belitong. Mungkin di Indonesia, hanya di Pulau Belitong yang penduduk pribuminya lebih akrab dengan Belanda tanpa ada diskriminasi yang berlebihan. Oleh karena itu pemberontakan dan perlawanan rakyat sangat minim sekali terjadi di Belitong. Belanda dan pribumi hidup berdampingan di tanah ini. Belanda tidak memaksakan kebudayaan mereka harus dilakukan oleh penduduk pribumi seperti yang dilakukan oleh Jepang ketika itu. Dan imbasnya sampai sekarang, adat dan budaya di Pulau Belitong masih sangat kental tanpa terpengaruh budaya eropa. Dan peninggalan-peninggalan kejayaannya masih bisa kita jumpai dan bisa kita kunjungi sampai sekarang.

Kemudian muncul sebuah pertanyaan, kapan pertama kali Timah mulai ditambang di Belitong? Pertanyaan ini sangat menarik, kita secara tidak langsung akan berasumsi bahwa timah mulai ditambang di Belitong sejak Belanda mulai melakukan ekspedisi eksplorasi di Belitong. Asumsi ini tidak lah salah, timah mulai ditambang secara profesional oleh Belanda sangat tepat. Tetapi, penambangan timah tradisional berdasarkan catatan sejarah dan penemuan-penemuan di sekitar sungai-sungai, beberapa ahli berpendapat bahwa timah sudah mulai ditambang secara tradisional jauh sebelum Belanda masuk ke Belitong. Hal ini dibuktikan dengan penemuan dayung dan perkakas-perkakas dari batu yang ditemukan di pinggiran sungai. Kala itu timah menjadi barang dagangan yang dibawa oleh kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan-pelabuhan kecil kerajaan di Belitong. Hanya saja waktu itu pengiriman timah keluar Pulau Belitong dilakukan dengan rahasia.

Ini yang menarik, timah ketika itu hanya diperdagangkan secara rahasia di Belitong. Dan hal ini menjadi salah satu alasan kuat, mengapa Belanda setelah melakukan ekspedisi eksplorasi berulang kali baru mereka mendapatkan jawaban bahwa Belitong adalah negeri kaya timah yang bahkan produksi nantinya akan melebihi Pulau Bangka yang telah lebih dulu di eksplorasi oleh Belanda. Nah, dari kejadian ini semakin menguatkan julukan Homo Politikus bagi orang Belitung.

Secara singkat, ekspedisi eksplorasi dari Belanda dilakukan sebanyak kurang lebih 4 kali dan pada eksplorasi terakhirlah baru Belanda yakin bahwa Belitong adalah negeri kaya timah. Setiap kali ada orang Belanda datang untuk mengeksplorasi  Belitong selalu disambut hangat oleh depati yang berkuasa masa itu di Belitong, tetapi mereka selalu pulang dengan tangan kosong, bahkan informasi yang dibawa oleh Belanda selalu hal-hal negatif dari Belitong seperti pulau ini sama sekali tidak ada kandungan timah, pulau ini tidak aman karena banyaknya lanun dan banyak lagi. Sehingga Belitong tidak  menjadi sorotan oleh Belanda  ketika itu walaupun pulau Bangka sudah menjadi penghasil timah ketika itu.

Sejarah Awal Pertambangan Timah di Pulau Belitung

Nama John Francis Loudon – putra Alexander Loudon, marinir Skotlandia, Pendiri perusahaan Billiton Maatschappij, yang menjadi cikal bakal perusahaan BHP Billiton yang sekarang ini dimiliki oleh Australia – yang namanya tertera dalam batu prasasti yang sekarang ini masih bisa dilihat di depan Museum Tanjungpandan, Belitung – sebagai pionir atau perintis pertambangan timah di Pulau Belitung.

Tahun 1849 keatas, dia banyak berhubungan dengan Baron van Tuyll atau nama lengkapnya adalah Vincent Gildemester Baron van Tuyll van Serooskersen yang banyak sekali mengatakan tentang Pulau Belitung.

Satu tahun kemudian atau tepatnya pada Oktober 1850, John Francis Loudon menerima surat dari Baron van Tuyll yang menerangkan bahwa atas nama Prins Hendrik mengusulkan untuk mengangkat John Francis Loudon sebagai kuasa penuh untuk memegang konsesi eksploitasi dan penambang timah di Pulau Belitung. Rencana eksploitasi ini dikarenkan bahwa Baron van Tuyll telah mendapatkan keterangan dari Dr. Baron van Hoevel bahwa di Museum Batavia ada tersimpan sepotong timah yang menurut keterangannya berasal dari Pulau Belitung.

Prins Hendrik dan Baron van Tuyll berusaha melalui jalur-jalur pemerintah supaya di Hindia Belanda diadakan penelitian tentang kandungan biji timah di Pulau Belitung dan penelitian tersebut ditugaskan kepada seorang ahli mengenai kekayaan mineral-mineral tanah. Ahli ini bernama Dr. Croockewit singkat kata, Dr. Croockewit ini tiba di Pulau Belitung pada tanggal 14 Oktober 1850.

Dikarenakan penelitian dari Dr. Croockewit pasti memakan waktu yang cukup lama, John Francis Loudon, Baron van Tuyll beserta rombongan memanfaatkan kesempatan tersebut sambil menunggu hasil penelitian dengan berangkat ke Cornwallis di Inggris sekitar Desember – 16 Januari 1851 untuk mempelajari cara pengolahan timah, peleburan dan lain sebagainya.

Tanggal 18 Januari 1851 rombongan John Francis Loudon dan Baron van Tuyll berangkat dari Southamton (Inggris) dengan kapal laut menuju Batavia dan tiba di Batavia tanggal 12 Maret 1851. Sewaktu rombongan tersebut di Singapore, rombongan ini menerima surat dari Z.D.H. Hertog van Saksen Wiemar, dimana isi surat tersebut menerangkan hasil penelitian dari Dr. Croockewit; yang menyatakan bahwa di Pulau Belitung tidak ada timah! Bisa kita banyangkan betapa sedihnya perasaan dari rombongan John Francis Loudon – Baron van Tuyll setelah mengetahui berita tersebut.

Bagi John Francis Loudon sendiri, hasil penelitian Dr. Croockewit tidak bisa diterimanya dan dengan bulat hati, dia tetap akan datang ke Pulau Belitung dengan membawa seorang ahli. Sesampainya di Batavia, banyak kalangan yang menerima hasil penelitian Dr. Croockewit bahwa di Pulau Belitung tidak ada timah dan hanya sedikit yang tidak setuju. Salah satu diantara yang tidak setuju tersebut adalah Dr. C.A.L.M. Schwaner. Beliau ini merupakan orang yang mengenal banyak tentang Hindia Belanda dan juga merupakan seorang ahli yang berpengalaman serta menurutnya ‘merupakan suatu keanehan kalau di Pulau Belitung tidak ada timahnya’.

Kemudian diputuskan penelitian kedua yang rencananya akan dilaksanakan oleh Dr. C.A.L.M. Schwaner – dengan persetujuan lisan dari Gubernur Jenderal Rochussen – dengan catatan harus dilaksanakan sebelum tugasnya ke Borneo (Kalimantan). Namun penelitian ini tidak berjalan karena beberapa hari setelah instruksi tersebut Dr. C.A.L.M. Schwaner meninggal dunia karena demam!

Karena kejadian diatas, permohonan di buat kembali kepada pemerintah (Algemeen Sekretaris supaya dapat ditandatangani oleh seorang Administratur yang sudah berpengalaman, yaitu Tuan Heydeman, Adminsitratur di Sungaiselan, Pulau Bangka) supaya dimintakan izin untuk dapat ditugaskan dalam peneyelidikan yang selanjutkan kepada Insinyur tambang Corneelis de Groot dan tanggal 7 April 1851, surat resmi nomor : 960 dari Algemeen Sekretaris, permohonan untuk penyelidikan kedua akhirnya dapat disetujui.

Pada tanggal 12 Juni 1851 barulah rombongan yang terdiri dari John Francis Loudon, Baron van Tuyll, de Groot Huguenin berangkat dengan kapal perang bertenaga uap “ETNA” menuju Muntok untuk urusan menghubungi Residen untuk mendapatkan seorang Administratur sebagai salah seorang yang termasuk anggota komisi.Akan tetapi Tuan Heydeman tidak dapat ikut ke Belitung dan untuk membantu rombongan Loudon mencari timah di Belitung, Van Bloemen Waanders, administratur distrik Jebus akhirnya membantu rombongan Loudon dengan ditemani oleh dua orang Cina untuk membantu pencarian timah di Belitung.

Satu-satunya keterangan bahwa ada timah di Pulau Belitung didapatkan dari dari seorang pensiunan berpangkat Kapten bernama Kuhn yang pernah berada di Pulau Belitung pada tahun 1824-1826. Dari Kapten Kuhn di dapatkan keterangan sewaktu bertugas ia memeriksa orang-orang Cina dia melihat bekas penggalian-penggalian timah dan peleburannya dan juga memegang timah murni. Dan lokasi ini terletak di Barat Daya Pulau Belitung!

Keterangan selanjutnya tentang Pulau Belitung – khususnya timah – adalah dari bekas Klerk bernama Den Dekker. Semasa menjabat sebagai Klerk ia banyak berkenalan dengan yang ada di Belitung dan dari pedagang-pedagang tersebut didapat kepastian tentang adanya timah di Pulau Belitung. Namun saat itu Belitung dipimpin oleh seseorang yang bergelar “Depati”, dimana depati tersebut akan kedatangan orang Eropa/ Belanda yang akan menduduki Pulau Belitung, maka mengenai keberadaan timah di Pulau Belitung dengan berbagai cara sangat dirahasiakan.

Den Dekker merupakan orang yang telah banyak mengabdikan dirinya dengan sepenuh hati terhadap perusahaan Billiton Maatschappij, pengabdiannya kurang lebih 30 tahun. Adalah kenyataan bahwa perusahaan Billiton Mij dan Den Dekker-lah yang PERTAMA KALI MENEMUKAN TIMAH DI PULAU BELITUNG. Den Dekker jugalah yang mengendalikan tambang timah yang pertama kalinya di buka di Belitung dan selanjutnya penggalian tambang-tambang disemua distrik-distrik yang ada di Belitung.

Saat itu Belitung dibagi dalam 6 Distrik; dimana ada dua distrik yang diperintah oleh Depati sedangkan empat lainnya diperintah oleh Ngabehi:

Tanjong Pandan (Tanjungpandan), dipimpin oleh Depati Tjakra di Ningrat

Sijook (= Sijuk) dipimpin oleh Ngabehi Jienal

Buding, dipimpin oleh Ngabehi Awang

Badau, dipimpin oleh Ngabehi Rachhim

Blantoe (Belantu), dipimpin oleh Ngabehi Draip

Lingan (mungkin maksudnya adalah Lenggang) juga dipimpin oleh seorang Depati seperti Tanjong Pandan dan sebagai wakilnya diangkat adiknya yaitu Ki Agoes Loesooh

Kedudukan Ngabehi berada di bawah Depati. Ngabehi diangkat oleh Depati dengan persetujuan pemerintah Hindia Belanda di Bangka. Singkat cerita, tanggal 27 Juni 1851, rombongan John Francis Loudon – Baron van Tuyll tiba diperairan Belitung (Tanjungpandan) dan Loudon mencatat rombongannya berjumlah 6 orang, yaitu:

John Francis Loudon sendiri;

Baron van Tuyll;

de Groot;

van Bloemen Waanders;

Den Dekker;

Huguenin.

Dengan mendaratnya rombongan tersebut, maka dimulailah penelitian tentang kandungan timah yang ada di Belitung. Sehingga dengan penjelajahan hampir seluruh pelosok Pulau Belitung, John Francis Loudon dkk mengambil kesimpulan bahwa hampir seluruh Pulau Belitung memiliki kandungan biji timah dan pada akhirnya Belitung menjadi salah satu penghasil timah terbesar di dunia hingga saat ini.

Yang menarik, perjalanan loudon dan teman-temannya untuk menarik kesimpulan bahwa Belitong adalah negeri timah tidaklah mudah. Pada awal kedatangannya loudon dalam setiap eksplorasinya ternyata selalu menemukan kandungan timah yang sangat sedikit dan itu hapir saja membuat mereka patah arang. Usut punya usut ternyata hal ini terjadi tidak terlepas dari peran depati yang memerintah saat itu, yang selalu menggambarkan bahwa Belitong tidak ada timah. Tetapi di perjalanan, loudon bertemu dengan penduduk setempat yang mengatakan bahwa dia mengetahui daerah yang kaya timah yang selama ini disembunyikan oleh depati. Singkat cerita akhirnya ditemukanlah lokasi kaya timah tersebut yang membuat depati mau tidak mau harus menyetujui eksplorasi lanjutan dan menunjukkan lokasi-lokasi kaya timah yang lain. Dan seoran loudon berhasil menemukan sumber timah yang banyak di Pulau Belitong bahkan konon melebihi Bangka saat itu. Ternyata, selidik punya selidik kenapa eksplorasi sebelumnya yang dilakukan oleh Belanda selalu gagal adalah dikarenakan pola pendekatan kepada depati dan penduduk setempat yang tidak didekati oleh eksplorer sebelumnya. Cuma yang aneh, kenapa depati menyembunyikan lokasi timah ini dari Belanda? Masih  ingat dengan Homo Politicus tadi tentang Orang Belitong, nah ini salah satu alasannya.

Sejarah Berdirinya Kota Manggar

Sejarah berdirinya kota Manggar berkaitan erat dengan pembukaan distrik tambang timah baru NV Billiton Maatschappij (B.M) di wilayah timur Pulau Belitung.Terdapat dua sosok yang berperan dalam pembukaan distrik baru tersebut yakni Den Dekker dan De Groot.

Manggar, pusat dari distrik yang terkaya dan paling modern. Manggar terletak di bukit Samak yang dipindah ke sana pada tahun 1916. Sebelumnya lapangan kerja Eropa itu berada di pinggir Sungai Manggar, dikurung oleh rumah-rumah Cina dan rumah pribumi sehingga pada waktu perluasan pegawai muncul lingkungan baru di bukit Manggar.Demikian salah satu kutipan dari buku Billiton 1852-1927. Catatan tersebut dibuat 66 tahun setelah Distrik Manggar dirintis oleh Johannes Den Dekker. Berikut ini riwayat singkatnya ;

Tahun 1861 Distrik Manggar dibuka dengan nama Burong Mandi – Lenggang dan pusatnya berada di Sungai Lolo, Kampong Burong Mandi.

Tahun 1862, pusat Distrik Manggar dipindahkan dari Burong Mandi ke sebelah kanan Sungai Manggar (Manggar lama).

Ihwal penamaan Distrik Manggar diceritakan De Groot dalam bukunya yang berjudul HERINNERINGEN AAN BLITONG : Historisch, Lithologisch , Mineralogisch , Geographisch , Geologisch en Mijnbouwkundig. Menurutnya, terdapat perbedaan pendapat diawal pemberian nama pada distrik baru tersebut.

Den Dekker selaku kepala distrik pertama mengingingkan wilayah kerjanya dinamai Distrik Burong Mandi, sedangkan Hoofdadministratie (Kepala Administratur) F.W.H. von Hedemann menginginkan distrik baru itu dinamai  Lenggang, nama dari sebuah sungai terbesar di distrik tersebut.

Masih menurut De Groot, Vertegenwoordiger (Penanggung jawab perusahaan) G.L.J.v.d. Hucht memintanya untuk membuat pilihan nama yang cocok untuk ibukota distrik baru tersebut. Dari dua nama yang diperdebatkan yakni Burong Mandi dan Lenggang, De Groot akhirnya memilih nama Manggar, nama dari sebuah sungai di tengah-tengah distrik tambang yang sudah ia tunjuk dan diyakini akan membuat ibukota distrik jadi berkembang.

1864, dibuka jalan setapak Tanjungpandan-Manggar via Simpang Tiga

1868, Lenggang menjadi distrik tersendiri dipisahkan dari Distrik Manggar

1874, didirikan tangsi polisi dan bengkel Lipat Kajang

1876, berdiri rumah tuan kongsi di puncak bukit Samak

1879 dibangun sekolah pemerintahan pribumi kelas 2

1885 trem uap dikembangkan

1896, Gereja Katolik dibangun

1911 Sentral Listrik dibangun dan  yayasan dana kota di dirikan

1913, rumah sakit Manggar dibangun

1914, sentral listrik mulai mengaliri listrik, jumlah sekolah ditambah

1916, pusat Manggar dipindahkan dari tepi Sungai Manggar ke bukit Samak.

#

Kembali ke Budaya