Antu Bubu, Hiburan Mistis Yang Menenangkan

by bljrbdy

}

Nov 16, 2021

Antu Bubu, Hiburan Mistis Yang Menenangkan

Rempah adalah sebuah eksotika di Bumi Nusantara. Khazanah rempah yang beragam bagaikan sebuah aurora di negeri tropis. Menyala dan menari dengan berbagai macam warna dan rupa yang menjadikannya medan magnetik dunia di planet yang bernama Bumi ini. Nusantara hanyalah bagian kecil dari semesta tetapi kilau dan semerbaknya siap membius siapa saja  yang mendekatinya. Sudah semestinya jika Jalur Rempah Nusantara menjadi bagian warisan dunia yang mencatat sejarah panjang alur perdagangan dan diplomasi seluruh dunia.

Pulau Belitong bagian utara hingga selatan menjadi bagian kecil yang turut andil dalam jalur rempah Nusantara yakni melalui pelabuhan-pelabuhan kecil warisan dari Kerajaan Balok dan Kerajaan Buding yang sempat berkuasa pada abad 17 hingga 19 Masehi kala itu. Pangkalan atau pengkalan adalah pelafalan masyarakat Belitong untuk penyebutan pelabuhan kecil ini. Disinilah terjadi berbagai aktivitas perdagangan hingga pertukaran budaya, yang tercermin dalam akulturasi budaya bagi masyarakat Belitong dari berbagai aspek mulai dari makanan, pakaian hingga kesenian yang sangat berpengaruh besar dalam perkembangannya yang terjaga dari masa ke masa.

Rempah adalah sumber kebahagian kami sebagai Urang Belitong (Orang Belitung). Belitong memang lebih dikenal sebagai negeri penghasil timah ketika Belanda mulai mengeksplorasinya secara profesional melalui sebuah perusahan yang bernama Billiton Maatschapaj (baca:billiton maskepai). Padahal timah dan rempah kala itu seolah berjalan beriringan dalam jalur perdagangan dunia jauh sebelum Belanda menginjakkan kakinya di Belitong. Rempah yang menjadi komoditi utama kala itu adalah sahang (lada). Kemudian muncul pertanyaan manakah yang lebih menguntungkan? Ternyata jawabannya adalah sama-sama menguntungkan. Hanya saja yang membedakannya adalah pihak yang merasakan keuntungannya. Pihak kolonial Belanda sangat diuntungkan dengan Timah kala itu, sedangkan sahang sangat dirasakan keuntungannya bagi masyarakat lokal dengan tradisi beume (berkebun). Kemudian banyak sekali akulturasi budaya yang terjadi di Pulau Belitong dampak dari perdagangan yang terjadi melalui jalur rempah di pulau Belitong, sebut saja dari sisi kuliner ada Lakse Belitong dan Begero,akulturasi dari Palembang dan cina, ikat kepala Getang akulturasi dari kedah Malaysia dengan pelafalan getam dari daerah asalnya, hingga kesenian Hadrah Belitong yang merupakan akulturasi dari Pontianak dan masih banyak sekali akulturasi yang terjadi di Pulau Belitong. Tetapi disamping itu juga terdapat budaya yang memang telah ada di Belitong ini, salah satunya adalah kesenian Antu Bubu.

Belitong terkenal dengan keeksotisan alamnya yang seringkali dikaitkan dengan Bali. Bahkan dari segi penamaanya pun identik. Legenda nama Belitong, berasal dari nama Balitong yang merupakan akronim dari Bali terpotong. Disamping itu sisi mistis juga tidak bisa dilepaskan begitu saja dari Belitong yang juga terkenal di seluruh pelosok Nusantara. Kesenian Antu Bubu menjadi daya tarik budaya tersendiri yang telah dijadikan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Pemerintahan Kabupaten Belitung Timur. Selain itu, kesenian ini juga muncul tidak terlepas dari budaya rempah yang digunakan secara turun-temurun baik dari prosesi maupun dari kisah awal mulanya diciptakan kesenian ini.

Antu Bubu merupakan kesenian khas yang berasal dari Belitung Timur dan khususnya Desa Lalang. Kata antu bubu berasal dari kata Antu (Hantu) dan bubu yang merupakan alat untuk menangkap ikan di laut/sungai. Kesenian Antu Bubu adalah pertunjukan yang menggunakan mistis di dalamnya. Asal mula cerita Antu Bubu ini bermula pada zaman dahulu, mata pencaharian masyarakat desa Lalang masih sangat bergantung kepada alam dan salah satunya adalah mencari ikan di sungai dengan menggunakan alat tangkap yang disebut dengan bubu. Pada suatu hari ada warga yang pergi ke sungai sambil membawa Bubu untuk diletakkan di rumpong ikan (tempat ikan berkumpul). Seperti biasanya Bubu akan ditinggalkan dan akan di selik (diambil kembali) pada sore harinya. Singkat cerita, hari sudah menjelang malam warga yang tadi meletakkan bubu berjalan ke sungai untuk mengambil Bubu dan berharap akan memperoleh tangkapan yang melimpah seperti hari-hari sebelumnya. Sementara istri di rumah telah menyiapkan bumbu dapur untuk memasak sebagian hasil tangkapan seperti hari-hari biasanya sebagai lauk untuk makan malam nanti. Bumbu lengkap yang berisi aneka ragam rempah untuk memasak Gangan, masakan olahan ikan khas dari Belitong berupa sup ikan dengan berbahan dasar bumbu kunyit yang dominan. Bahkan konon katanya Urang Belitong akan merasa kurang bergairah bila satu hari saja tidak mengkonsumsi ikan dengan bumbu rempah-rempah yang khas ini. Tetapi ketika tiba di lokasi, Bubu diangkat dari sungai dan ternyata tidak ada seekor ikanpun yang terperangkap di dalam Bubu. Hari pertama, warga ini tidak menaruh curiga sedikitpun dan berkata dalam hati mungkin belum rejekinya. Bisa dibayangkan kegundahan yang dirasakannya ketika pulang dengan tangan hampa, sementara istri dan anak-anaknya menunggu di rumah berharap makan malam nanti bisa menyantap kuliner favorit keluarga sebagai bekal kembali ke peraduan untuk tertidur lelap melepas penat kegiatan hari ini, tapi malang tak bisa ditolak hanya meyakini buah kesabaran akan terasa manis di keesokan harinya. Hari kedua, warga ini kembali meletakkan Bubu tersebut dan kembali pada sore harinya dan ternyata tak ada satupun ikan juga yang terperangkap di dalamnya. Dalam hatinya, mulai merasa aneh dan tidak percaya. Kemudian hari ketiga kembali dilakukan lagi kegiatan mencari ikan menggunakan Bubu dan lagi-lagi hasilnya nihil. Karena penasaran dan dalam hatinya mengatakan bahwa tidak mungkin tidak ada ikan di daerah ini. Akhirnya di hari keempat, warga ini kembali meletakkan bubu di tempat yang sama hanya saja yang berbeda kali ini warga tersebut tidak langsung pulang tapi memilih untuk bersembuyi dibalik semak-semak untuk memperhatikan keadaan Bubunya. Warga ini menunggu dari pagi sampai sore, tapi tidak melihat ada yang mencurigakan dari Bubunya. Hingga dia merasa bosan dan ingin segera pulang kerumah sambil membawa bubunya. Tapi sesaat sebelum dia bergerak terdengar langkah kaki dari kejauhan, ternyata ada orang yang menghampiri sambil membawa ambong (keranjang kecil untuk menaruh hasil tangkapan) dan mengangkat bubu tersebut dan ternyata hasilnya sangat banyak. Dan dengan santainya orang tersebut memindahkan ikan-ikannya ke dalam ambong tanpa menyisakan sedikitpun dan meletakkan kembali bubu ke tempat semula. Melihat kejadian ini warga pemilik bubu terkejut, ternyate ini penyebab e ade nok ngambik ikan de bubu aku, tunggula isok kao nak ngerase, ujar pemilik bubu dalam hati (ternyata ini penyebabnya ada yang sengaja mengambil ikan dari bubu, kamu lihat saja besok kamu akan merasakan akibatnya). Warga ini pulang dengan perasaan marah dan kesal sambil membawa Bubu miliknya. Sesampainya di rumah, Bubu miliknya dibuatkan ritual khusus dan dimantrai supaya bagi siapa mengambil yang bukan haknya akan celaka. Akhirnya keesokan harinya bubu kembali diletakkan di tempat biasa dan dia pulang ke rumahnya. Ketika sore hari warga ini kembali untuk melihat bubunya. sesampainya disana warga ini melihat sesosok mayat yang mengambang tepat disamping bubu miliknya yang menandakan bahwa orang tersebut adalah pencuri ikan yang selama ini mengambil ikan yang bukan haknya. Dan kemudian mayat tersebut dikuburkan secara layak oleh warga di pinggiran sungai itu. Kemudian hari-hari berlalu,banyak warga lain sering diganggu oleh hantu ketika ingin mengambil ikan di sungai yang ternyata adalah roh pencuri ikan di dalam Bubu yang gentayangan. Oleh karena itu, dibuatkanlah perjanjian antara roh pencuri dengan salah satu tokoh adat di desa untuk tidak menggangu warga lagi. Untuk mengenang dan sebagai pembelajaran bersama dibuatlah kesenian Antu Bubu ini sebagai hiburan masyarakat. Banyak sekali pesan yang ingin disampaikan oleh Kek Deraip selaku orang yang pertama kali menciptakan kesenian ini. yaitu kita tidak boleh mengambil milik hak orang lain,berlaku sombong dan juga selalu ingat dengan maut. Dan ada satu perjanjian yang tidak boleh dilanggar yaitu tidak boleh menyebutkan nama dari roh gentayangan ini yang menjadi Antu Bubu.

Sisi menarik dari kesenian Antu Bubu ini tidak hanya ketika dimulai pertunjukannya saja tetapi pada proses persiapannya yang melibatkan beberapa pihak dan selalu terselip makna dari setiap proses yang dilakukannya. Kek Deraip selaku pencipta kesenian ini telah memikirkan secara matang dan mendalam bahwa kesenian ini bukan hanya sebagai hiburan semata tetapi juga membawa pesan-pesan moral yang harus dijunjung tinggi demi terciptanya ketentraman dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat itu sendiri.

Proses persiapan kesenian Antu Bubu dimulai dengan ritual penyiapan Bubu sebagai alat utama dari kesenian ini. Biasanya terjadi kolaborasi antara pengrajin lokal dan pawang Antu Bubu. Pengrajin lokal bertugas untuk membuat bubu sedangkan pawang Antu Bubu akan memberikan mantra kepada bahan-bahan yang akan dipergunakan. Adapun bahan-bahan yang dipergunakan dari kesenian Antu Bubu ini adalah bulo (bambu), kain kafan, rotan, batok kelapa dan kayu. Untuk bambu yang digunakan haruslah bambu yang posisinya membujur pada arah laut tidak boleh melintang. Karena diyakini oleh masyarakat setempat bahwa posisi bambu yang melintang menandakan bambu tersebut dimiliki oleh orang lain sedangkan kalau posisi membujur menandakan bambu tersebut bebas untuk diambil dan dipergunakan. Hanya saja sekarang, bambu cukup sulit ditemukan di Desa Lalang sehingga seringkali diganti dengan belahan kabong (pelepah pohon nira). Kemudian kain putih yang digunakan juga harus menggunakan kain kafan tidak bisa diganti dengan kain putih yang lain dan harus dibeli dari orang yang biasa memandikan dan mengkafani jenazah muslim sebagai bentuk sedekah kepada yang bersangkutan. Batok kelapa akan menyimbolkan kepala dari bubu ini, rotan berfungsi sebagai kerangka lingkaran badan dari Bubu, sedangkan kayu sebagai simbol tangannya. Setelah wujud Antu Bubu ini selesai baru dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian. Untuk waktu pertunjukan, tidak memiliki waktu khusus, hanya saja tidak boleh dalam rentang waktu yang nanggung dan memasuki waktu shalat. Sedangkan yang akan menjadi lawannya tidak terbatas gender, yang terpenting memiliki nyali dan “bersih” serta siap menghadapi resiko yang akan terjadi. Apabila sudah ditentukan waktunya dan telah ada lawan dari Antu Bubu ini barulah prosesi kesenian akan dimulai. Seorang pawang akan membaca mantra sambil menaburkan kemenyan ke atas pendupaan sederhana biasanya menggunakan sabut kelapa ataupun rokok sang pawang kemudian diasapkan ke sekeliling bubu untuk meminta roh masuk kedalam bubu. Begitu pawang memberi isyarat permainan dapat di mulai, lawan yang sudah siap dapat mulai melawan bubu yang telah dimantrai. Lawan di anggap berhasil menjadi pemenang jika berhasil merusak bubu. Hal itu pertanda bahwa hantu dalam bubu berhasil di taklukan. Namun, merusak bubu bukan hal yang mudah karena bubu yang telah di beri mantra akan terasa berat dan akan berusaha mendorong lawannya. Kesenian ini dalam satu babak tidak boleh melebih dari 30 menit dan apabila bubu belum rusak, kesenian ini akan dilanjutkan kembali dengan mencari orang lain sebagai lawannya. Pertunjukan akan berakhir apabila bubu telah rusak dan pawang akan melanjutkannya dengan melakukan penguburan dari bubu tersebut di tempat yang ditentukan oleh sang pawang.

Ketika pertunjukan dimulai, terdapat satu rempah yang memiliki peran penting dalam kesenian Antu Bubu ini, yaitu penggunaan kemenyan dengan cara dibakar dan dikelilingi di sekitar arena pertunjukan. Memang di Indonesia pada umumnya, kemenyan selalu di identikkan dengan hal-hal yang berbau mistis. Menurut tokoh adat, kemenyan di ibaratkan sebagai makanan dan imbalan bagi roh yang di undang dari sudut pandang ritual adat. Tetapi kami mencoba menggali dari sudut pandang yang berbeda yaitu dari segi keilmuan eksakta pengetahuan alam. Cukup mengejutkan ketika kandungan yang terdapat dalam kemenyan ternyata memiliki fungsi sebagai aroma terapi anti depresan yang membawa efek sedatif atau menenangkan. Entah ini suatu kebetulan atau memang telah dipikirkan oleh Kek Deraip dengan menjadikan Antu Bubu sebagai pertunjukan untuk menghibur masyarakat dengan menggunakan kemenyan sebagai pelengkap utamanya. Tetapi kami percaya bahwa beliau adalah sosok yang memiliki kecerdasan budaya yang memikirkan setiap langkah bukan hanya untuk hari ini melainkan untuk masa depan. Salam Budaya.[i]

[i] Sumber referensi :

  1. Bincang langsung ke pelaku budaya kesenian Antu Bubu yaitu pak Mageribi
  2. Laporan temu kenali pemajuan kebudayaan Daya Desa Lalang

Read More

Related Posts

No Results Found

The page you requested could not be found. Try refining your search, or use the navigation above to locate the post.